Minggu, 12 Februari 2012

DIPONEGORO'S BIOGRAPHY

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.
Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen, Purworejo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
Lukisan Persitiwa Pengkapan Pangeran Diponegoro oleh VOC28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro.
Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April. 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.
lokasi makam Pangeran Diponegoro di Jl. Diponegoro Makassar, Sulawesi Selatan. Juli 2008 Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.
Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda. Ki Sodewo kecil atau Bagus Singlon tumbuh dalam asuhan Ki Tembi, orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Bagus Singlon atau Raden Mas Singlon atau Ki Sodewo setelah remaja menyusul ayahnya di medan pertempuran. Sampai saat ini keturunan Ki Sodewo masih tetap eksis dan salah satunya menjadi wakil Bupati di Kulon Progo bernama Drs. R. H. Mulyono.
Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Latar belakang

Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas berjumlah 8.000.
Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.
Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.
Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Beliau kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut.
Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.
Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

PERANG DIPONEGORO

PERANG JAWA DISEBABKAN OLEH FAKTOR SOSIOBUDAYA.
LATAR BELAKANG PERANG:
Perang Diponegoro atau dalam bahasa Belanda dikenali dengan istilah “De Java Qorlog” merupakan suatu perang yang besar. Perang ini berlangsung selama lima tahun iaitu antara tahun 1825 hingga 1830 yang bernama Pangeran Diponegoro.Dalam perang ini juga, Pangeran Dipornegoro dibantu oleh pahlawan-pahlawan hebat yang lain seperti pahlawan Mangkubumi, Kyai Modjo dan Sentot Prawirodirdjo.
[3] Perang ini juga akhirnya telah melibatkan pelbagai korban yang bukan sahaja harta-benda bahkan juga nyawa manusia. Berdasarkan dokumen-dokumen Belanda, perang tersebut telah mengorbankan 200 000 nyawa masyarakat peribumi manakala 8000 nyawa terkorban di pihak Belanda. Perang ini dikenali sebagai “Perang Jawa” kerana peperangan ini melibatkan hampir seluruh wilayah Jawa. Maka dengan itu, istilah “Perang Jawa” diaplikasikan.
3.0 FAKTOR-FAKTOR TERCETUSNYA PERANG JAWA:
Terdapat beberapa faktor tertentu yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa. Perang ini dilihat bermula daripada masalah ataupun konflik dalaman Keraton Yogyakarta. Ketegangan timbul ketika Sultan Hamengkubuwono II memecat dan menggeser pegawai keraton dan bupati-bupati yang dahiulu dipilih olehSultan Hamengkubuwono
I.[4] Sultan Hamengkubuwono II menginginkan pemerintahan yang kuat dan dibantu oleh orang-orang yang dekat dengan beliau. Justeru itu, beliau telah melantik pebantu-pebantunya dari kalangan menantunya. Contohnya, Raden Adipati Danu Rejo II sebagai patih, Raden Temenggung Sumodinigerat sebagai Wedana Lebet dan Raden Ronggo Prawiroderjo III sebagai bupati Wedana Monconegoro Timur.
[5] Hal ini menyebabkan banyak pegawai yang berpengalaman sebelum ini telah dipecat. Perkara ini menyebabkan Kanjeng Ratu Ageng telah menasihati Sultan terhadap tindakannnya. Namun begitu, nasihatnya tidak diendahkan oleh Sultan. Golongan-golongan ini dilihat seringkali disisihkan dan dipinggirkan dalam soal pemerintahan dan pentadbiran. Hal ini secara tidak langsung membuka peluang kepada pihak Belanda untuk campur tangan berikutan perpecahan yang berlaku dalam Keraton. Sesungguhnya Belanda dapat mempertahankan kekuasaannya dan mengembangkan pengaruh serta kolonialisme dengan cara yang licik sekali dan dengan kemahirannya mempergunakan konsep politik “divide and rule” iaitu suatu konsep politik yang mengadu domba bangsa Jawa dengan semboyan “pecah dan perintah”.
[6] Oleh itu, golongan-golongan yang tersisih ini akhirnya meminta bantuan kepada Putera Mahkota iaitu ayah Pangeran Dipornegoro. Walau bagaimana pun, Kanjeng Ratu Ageng akhirnya bersama cucunya menigggalkan Keraton dan menetap di desa Tegalrejo. Namun begittu, konflik masih terus berlaku terutamanya apabila Dipornegoro sudah besar. Konflik ini berlaku sekitar tahun 1792. Konflik ini melibatkan Sultan Hamengkubuwono II dan Putra Mahkota iaitu Pangeran Adipati Amangkunagoro serta akhirnya melibatkan Diponegoro. Hal ini bermula gara-gara keputusan Residen Baron de Salis yang telah bersetuju mengangkat Pangeran Menol yang masih berusia tiga tahun sebagai Sultan Hamengkubuwono V untuk menggantikkan Sultan Hamengkubuwono IV yang meninggal dunia secara tiba-tiba.
[7] Hal ini berlaku pada tahun 1822. Perkara ini akhirnya menyebabkan Diponegoro terasa terhina kerana terpaksa akur dan menghormati serta menyembah pemimpin yang masih kecil. Menurut tatatertib adat keraton, setiap pangeran sememangnya diwajibkan agar menyembah sultan dalam segala upacara atau urusan rasmi. Perkara ini bersesuaian dengan kepercayaan masyarakat Jawa yang menganggap sultan sebagai penguasa yang tertinggi yang ditakdirkan Tuhan kerana mendapat wahyu kerajaan. Disebabkan, Sultan Hemengkubuwono V masih kecil untuk memerintah negara, maka satu dewan perwalian dibentuk bagi menjalankan pemerintahan.
[8] Antara anggota dewan itu ialah terdiri daripada Permaisuri Sultan III, Pangeran Mangku Bumi dan Pangeran Dipornegoro. Walaupun, Pangeran Dipornegoro merupakan ahli dewan, namun Dipornegoro jarang diajak atau dilibatkan secara khusus dalam soal pentadbiran dan pemerintahan. Contohnya, Pangeran Dipornegoro telah menyatakan masalah rakyat berkenaan isu penyewaan tanah kepada pihak Keraton namun usahanya itu hanya sia-sia sahaja kerana tidak mendapat sambutan dan layanan yang baik daripada pihak Keraton.[9] Akhirnya, Pangeran Dipornegoro meningggalkan ahli dewan dan jarang terlibat dalam sebarang usaha pemerintahan dan pentadbiran Keraton lagi. Walaupun Sultan Hamengkubuwono V diiktiraf sebagai sultan, namun perkara ini hanya terletak pada gelarannya sahaja tetapi tidak pada hakikatnya. Hakikatnya, pemerintahan dijalankan oleh Patih Danuredjo. Patih Danuredjo ini pula merupakan seorang yang mudah dipengaruhi dan sentiasa akur pada arahan dan perintah Belanda.
Faktor lain yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa ialah disebabkan ketamakan dan kerakusan Belanda di Jawa. Setelah kekalahan Belanda dalam Perang Napoleon di Eropah, Belanda telah mengalami krisis kewangan yang sangat serius dan berat. Hal ini berikutan perbelanjaan perang yang banyak serta kerugian yang besar yang mereka alami setelah kalah dalam Perang Napoleon.
[10] Hal ini seterusnya mendorong Belanda untuk menjalankan pelbagai pajakan di wilayah jajahannya termasuk jugalah di Hindia Belanda. Melalui dasar baru yang diperkenalkan Belanda ini, orang asing dibolehkan menyewa tanah masyarakat peribumi tempatan secara meluas. Tanah yang disewakan ini tidak terbatas pada tanah pertanian sahaja, bahkan jalan raya juga disewakan untuk diambil hasilnya iaitu dengan menarik pajak kepada semua barang-barang muatan yang dibawa melalui jalan itu.
[11] Menurut S. Pragg, terdapat 34 jenis pajakan yang harus dibayar oleh rakyat.
[12] Selain sistem pajakan dan sistem penyewan tanah yang membebankan rakyat, terdapat beberapa sistem lain yang amalannya kelihatan menyusah dan menindas rakyat. Misalnya, seperti pengamalan sistem pembayaran bea. Sistem ini sememangnya memberikan bebanan yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat peribumi. Hal ini kerana orang-orang yang melalui daerah para bewan (tolgaarders) harus membayar bea untuk barang-barang yang dibawanya.
[13] Pada awalnya, jumlah beawan-beawan ini tidaklah sebegitu banyak, namun begitu setelah melihat perniagaan ini mendatangkan untung yang lumayan maka jumlah beawan-beawan ini semakin hari semakin meningkat. Pemerintah Kolonial biasanya menyewakan “daerah bea cukai” kepada masyarakat Tiong Hua yang terkenal sebagai beawan dengan harga yang tinggi. Perlaksanaan sistem ini juga kelihatannya mengikis sedikit demi sedikit sikap perikemanusiaan dalam diri manusia.
[14] Hal ini dapat dibuktikan, apabila anak-anak kecil yang didukung oleh ibu mereka juga turut dikenakan bayaran bea. Mereka menganggap anak-anak kecil ini juga tidak lebih sebagai barang bawaan yang harus dikenakan cukai. Terdapat juga para pemungut bea yang kejam sehingga sanggup bertindak di luar batas kesopanan dan kesusilaan sehingga berani menggeledahi barang-barang dan memeriksa tubuh badan setiap orang yang melalui kawasan mereka. Selain itu juga, Belanda turut mengamalkan dasar monopoli yang akhirnya menyeksa dan menindas masyarakat Hindia Belanda termasuk tanah Jawa.
[15] Selain itu, antara faktor lain yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa adalah masalah penyewaan tanah milik Keraton Yogyakarta dan Surakarta oleh pemerintah Hindia-Belanda serta juga disebabkan oleh faktor budaya. Pada masa pemerintahan adiknya iaitu Hamengkubuwono IV, terdapat banyak golongan bangsawan yang memperoleh harta kekayaan yang banyak yang akhirnya menyebabkan mereka menjadi kaya secara tanpa disangka.
[16] Kebanyakan bangsawan ini memperoleh kekayaan yang banyak kesan hasil penyewaan tanah yang mereka jalankan. Perkara inilah yang menyebabkan para bangsawan lebih gemar hidup mengamalkan gaya hidup mewah dan kaya yang diadaptasikan daripada gaya kehidupan pemerintah Belanda. Mereka iaitu golongan bangsawan ini kelihatannya mula menagung-agungkan nilai dan norma-norma masyarakat Belanda tetapi sebaliknya meninggalkan nilai dan norma-norma kehidupan masyarakat Jawa dan Islam. Contohnya, kebanyakan bangsawan sudah mula gemar menganjurkan pesta-pesta sehingga larut malam, meminum minuman keras yang memabukkan dan sebagainya.
[17] Fenomena ini sememangnya tidak disetujui oleh golongan tua kerana perlakuan dan perbuatan seperti ini “sudah terang lagi bersuluh” menyalahi adat istiadat Keraton selain upacara seperti ini hanya membazirkan wang negara. Perkara ini menjadi bertambah rumit dan serius apabila terdapat bangsawan yang bekerja di bawah Belanda menjalankan hubungan terlarang dengan gadis keraton secara sewenang-wenangnya. Sultan sendiri juga yang selau memakai gelaran Saiyidin Panatagama Khalifatullah dikatakan juga sudah terjerumus ke dalam jurang pengaruh barat.
[18] Demikianlah usaha-usaha pihak Belanda untuk melemahkan kekuatan raja dari dalam iaitu di samping menyingkirkan orang-orang yang dianggap berbahaya, dimasukkan juga unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya sememangnya bercanggah dengan kebudayaan masyarakat tempatan. Dalam isu ini, Diponegoro kelihatannya begitu mengambil berat dan prihatin kerana beliau tidak mahu tanah airnya dicemari dengan kebudayaan songsang yang sememangnya bertentangan dengan kebudayaan masyarakat Jawa dan Islam. Hal ini juga terdorong oleh sifat Diponegoro yang begitu taat dan patuh pada hukum Islam. Pangeran Diponegoro merupakan seorang ulama (sentri) yang gemar membaca dan mendalami kitab-kitab yang bercorak agama, sejarah dan sastera.
[19] Beliau beranggapan bahawa berkuasanya orang asing terhadap tanah milik kerajaan iaitu melalui cara penyewaan tanah merupakan petanda atau alamat jatuhnya tanah Jawa ke tangan orang asing sehingga Jawa harus dirampas kembali dengan perang sabil. Selanjutnya, perang Jawa juga meletus disebabkan tindakan Belanda yang menjalankan penutupan jalan ke Tegalrejo dengan memasang pancang secara sengaja di tanah milik Diponegoro di Tegalrejo.-
[20] Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda ini adalah bertujuan untuk pembinaan jalanraya yang baru. Tambahan lagi, aktiviti ini dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh pemilik tanah. Tindakan pihak Belanda ini dijalankan melalui perantara arahan dari Pateh Danurejo IV yang sememangnya terkenal sebagai seorang Pateh yang sangat taat dan setia kepada kekuasaan pemerintah Belanda.
[21] Namun begitu, pancang-pancang itu telah dicabut dan dibuang oleh para pengikut Diponegoro. Pancang-pancang itu pula telah digantikan dengan tombak-tombak sebagai simbol penentangan atau protes mereka terhadap tindakan dan sikap pemerintah Belanda. Walaubagaimanapun, Residen Smissaert yang telah menggantikan Residen Baron de Salis telah memerintahkan anak buahnya agar pancang-pancang tersebut dipasang kembali.
[22] Keadaan menjadi semakin panas apabila pembinaan jalanraya tersebut turut melibatkan tanah perkuburan nenek-moyang mereka termasuk Diponegoro.[23] Walaupun pelbagai arahan dan amaran supaya kegiatan tersebut dihentikan, namun pemerintah Belanda masih juga degil dan tersu sahaja meneruskan aktiviti tersebut. Juruukur dan pembina jalanraya terus sahaja menjalanakan aktiviti pembinaan jalanraya yang baru tanpa mengendahkan protes dan tentangan daripada masyarakat tempatan. Isu inilah yang menyebabkan seluiruh masyarakat Jawa yang terdiri daripada pelbagai latar belakang iaitu bangsawan, kuli, buruh, pedagang, petanidan guru-guru agama bersatu dalam menuntut hak mereka. Seluruh pemimpin dan rakyat jelata disatukan dibawah slogan yang berbunyi “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati” yang bermaksud sejari kepala sejengkal tanah dibela samapi mati.[24] Perang ini juga dilihat sebagai perang memperjuangkan hak asasi masyarakat peribumi Jawa yang ditindas oleh Belanda. Di samping itu juga, Pangeran Dipornegorio menuntut agar Pateh Danureja IV dipecat akibat tindakannya yang menindas masyarakat Jawa. Namun begitu, Residen A. H. Smissaert membela pegawai tinggi Sultan yang setia kepada arahan Belanda.
[25] Perkara ini akhirnya telah merintis kepada berlakunya perang Jawa antara Belanda dengan masyarakat peribumi tanah Jawa.
4.0 PERJALANAN PERANG JAWA:
Pertempuran terbuka berlangsung dengan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri bertindak sebagai senjata utama dalam pertempuran. Pertempuran antara kedua-dua belah pihak iaitu masyarakat tempatan dengan Belanda berlaku dalam suasana yang begitu sengit sekali. Pertempuran juga melibatkan kebanyakan desa di seluruh tanah Jawa. Peperangan berlaku dengan cara iaitu sekiranya sesuatu kawasan itu ditakluki Belanda pada siang hari, maka pada malam hari, kawasan itu akan dirampas kembali oleh tentera peribumi tempatan.
Serangan-serangan masyarakat tempatan kerapkali dilancarkan pada bulan-bulan yang mengandungi musim hujan.
[26] Mereka mempercayai bahawa bekerjasama dengan alam merupakan suatu senjata yang ampuh untuk menghadapi tentera Belanda. Apabila musim hujan tiba, Gabenor Belanda akan menjalankan usaha-usaha gencatan senjata dan berunding. Hal ini kerana, musim hujan menyebabkan pergerakan tentera Belanda terbatas dan menjadi agak sukar. Keadaan menjadi semakin sukar apabila pelbagai penyakit merbahaya seperti malaria, disentri dan sebagainya muncul sebagi musuh yang tidak nampak bagi tentera Belanda. Apabila waktu gencatan senjata dijalankan, maka mata-mata pihak Belanda akan bergerak ke kampung-kampung untuk mendapatkan maklumat tentang musuh mereka selain ingin memecah-belahkan musuh mereka.
[27] Pada kemuncak peperangan, Belanda telah mengerahkan lebih 23 000 orang tentera untuk menghadapi tentera peribumi tempatan.
[28] Hal ini sememangnya suatu perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Belanda kerana menempatkan tentera yang sebegitu banyak dalam kawasan atau wilayah yang mempunyai keluasan yang tidaklah begitu luas. Dalam perang ini, pelbagai taktik dan startegi perang telah diaplikasikan. Contohnya seperti taktik perang terbuka (open warfare), perang gerila (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik “hit and run” dan penghadangan. Dalam perang ini juga, taktik parang saraf juga turut diaplikasikan. Oleh itu, dapat difahami bahawa dalam Perang Jawa pelbagai taktik dan startegi perang yang mirip kepada konsep perang moden telah digunapakai.
Pada tahun 1827, Belanda telah melakukan serangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga pasukan Diponegoro terjerat. Pada tahun 1829, Kyai Maja yang merupakan seorang pemimpin spiritual pemberontakan telah ditangkap. Seterusnya, Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah diri kepada Belanda.
[29] Akhirnya, pada 28 Mac 1830, Jeneral De Kock berjaya menawan pasukan Diponegoro di Mangelang.
[30] Diponegoro akhirnya bersetuju menyerah diri tetapi dengan syarat anggota askarnya dilepaskan. Maka dengan itu, Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado kemudian ke Makasar serta seterusnya meninggal dunia di Rotterdam pada 8 Januari 1855.
a. Latar Belakang Perlawanan Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo, putra Sultan Hamengku Buwono III. Karena pengaruh Belanda sudah sedemikian besarnya di istana maka Diponegoro lebih senang tinggal di rumah buyutnya di desa Tegalrejo.
Secara umum sebab-sebab perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:
1. Secara umum sebab-sebab perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:
2. Adat kebiasaan keraton tidak dihiraukan para pembesar Belanda duduk sejajar dengan Sultan.
3. Masuknya pengaruh budaya Barat meresahkan para ulama serta golongan bangsawan. Misalnya pesta dansa sampai larut malam, minum-minuman keras.
4. Para bangsawan merasa dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda menghentikan sistem hak sewa tanah para bangsawan oleh pengusaha swasta. Akibatnya para bangsawan harus mengembalikan uang sewa yang telah diterimanya.
5. Banyaknya macam pajak yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak rumah, pajak ternak.
Selain hal-hal tersebut ada kejadian yang secara langsung menyulut kemarahan Diponegoro yaitu pemasangan patok untuk pembuatan jalan kereta api yang melewati makam leluhur Diponegoro di Tegal Rejo atas perintah Patih Darunejo IV tanpa seijin Diponegoro. Peristiwa tersebut menimbulkan sikap terang-terangan Diponegoro melawan Belanda.
Pejuang Berhanti Bersih
Dilahirkan dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa kepemimpinan dan kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang pangeran akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan guna membela kehormatan keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari penjajahan Belanda.
Namun resiko dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, rekayasa perundingan. Namun walaupun begitu, beliau tidak akan pernah menyesal karena beliau wafat dengan hati yang tenang, tidak berhutang pada bangsanya, rakyatnya, keluarganya, terutama pada dirinya sendiri.
Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan hati, kepemimpinan, kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang tertangkap bila menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di Yogyakarta tanggal 11 November 1785, ini.
Pangeran Diponegoro yang bernama asli Raden Mas Ontowiryo, ini menunjukkan kesederhanaan atau kerendahan hatinya itu ketika menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat bunda yang melahirkannya bukanlah permaisuri.
Bagi orang-orang yang tamak akan kedudukan, penolakan itu pasti sangat disayangkan. Sebab bagi orang tamak, jangankan diberi, bila perlu merampas pun dilakukan. Melihat penolakan ini, sangat jelas sifat tamak tidak ada sedikitpun pada Pangeran ini. Yang ada hanyalah hati yang bersih. Beliau tidak mau menerima apa yang menurut beliau bukan haknya. Itulah sifat yang dipertunjukkannya dalam penolakan terhadap tawaran ayahnya tersebut.
Namun sebaliknya, beliau juga akan memperjuangkan sampai mati apa yang menurut beliau menjadi haknya. Sifatnya ini jelas terlihat jika memperhatikan sikap beliau ketika melihat perlakuan Belanda di Yogyakarta sekitar tahun 1920. Hatinya semakin tidak bisa menerima ketika melihat campur tangan Belanda yang semakin besar dalam persoalan kerajaan Yogyakarta. Berbagai peraturan tata tertib yang dibuat oleh Pemerintah Belanda menurutnya sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Sikap ini juga sangat jelas memperlihatkan sifat kepemimpinan dan kepahlawanan beliau.
Sebagaimana diketahui bahwa Belanda pada setiap kesempatan selalu menggunakan politik ‘memecah-belah’-nya. Di Yogyakarta sendiri pun, Pangeran Diponegoro melihat, bahwa para bangsawan di sana sering di adu domba Belanda. Ketika kedua bangsawan yang diadu-domba saling mencurigai, tanah-tanah kerajaan pun semakin banyak diambil oleh Belanda untuk perkebunan pengusaha-pengusaha dari negeri kincir angin itu.
Melihat keadaan demikian, Pangeran Diponegoro menunjukkan sikap tidak senang dan memutuskan meninggalkan keraton untuk seterusnya menetap di Tegalrejo. Melihat sikapnya yang demikian, Belanda malah menuduhnya menyiapkan pemberontakan. Sehingga pada tanggal 20 Juni 1825, Belanda melakukan penyerangan ke Tegalrejo. Dengan demikian Perang Diponegoro pun telah dimulai.
Dalam perang di Tegalrejo ini, Pangeran dan pasukannya terpaksa mundur, dan selajutnya mulai membangun pertahanan baru di Selarong. Perang dilakukan secara bergerilya dimana pasukan sering berpindah-pindah untuk menjaga agar pasukannya sulit dihancurkan pihak Belanda. Taktik perang gerilya ini pada tahun-tahun pertama membuat pasukannya unggul dan banyak menyulitkan pihak Belanda. Namun setelah Belanda mengganti siasat dengan membangun benteng-benteng di daerah yang sudah dikuasai, akhirnya pergerakan pasukan Diponegoro pun tidak bisa lagi sebebas sebelumnya. Disamping itu, pihak Belanda pun selalu membujuk tokoh-tokoh yang mengadakan perlawanan agar menghentikan perang. Akhirnya, terhitung sejak tahun 1829 perlawanan dari rakyat pun semakin berkurang. Belanda yang sesekali masih mendapatkan perlawanan dari pasukan Diponegoro, dengan berbagai cara terus berupaya untuk menangkap pangeran. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Diponegoro sendiri tidak pernah mau menyerah sekalipun kekuatannya semakin melemah.
Karena berbagai cara yang dilakukan oleh Belanda tidak pernah berhasil, maka permainan licik dan kotor pun dilakukan. Diponegoro diundang ke Magelang untuk berunding, dengan jaminan kalau tidak ada pun kesepakatan, Diponegoro boleh kembali ke tempatnya dengan aman. Diponegoro yang jujur dan berhati bersih, percaya atas niat baik yang diusulkan Belanda tersebut. Apa lacur, undangan perundingan tersebut rupanya sudah menjadi rencana busuk untuk menangkap pangeran ini. Dalam perundingan di Magelang tanggal 28 Maret 1830, beliau ditangkap dan dibuang ke Menado yang dikemudian hari dipindahkan lagi ke Ujungpandang.
Setelah kurang lebih 25 tahun ditahan di Benteng Rotterdam, Ujungpandang, akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 beliau meninggal. Jenazahnya pun dimakamkan di sana. Beliau wafat sebagai pahlawan bangsa yang tidak pernah mau menyerah pada kejaliman manusia.

Jalannya perang

Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.

Perang Diponegoro dan Perang Padri

Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi, yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825, dan babak II.
Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. Berakhirlah Perang Padri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar